Selasa 31/7/2018
Sore ini aku duduk di bangku nomer 2 bis terminal Landungsari. Cerita ini bermula ketika seorang pengamen terminal masuk ke bis ku,layaknya pengamen biasa pakaian serta alat kerja yg digunakan untuk mengais rezeqi dari melodi suaranya pun hanya sebatas kentrung(gitar kecil) sebagai sumber nada pengiring gelak merdu suara nya. Tak terlupa kantong plastik sisa bungkus snack yg telah ia bersihkan terlipat rapi dalam saku celana guna menadah pundi pundi koin kehidupan. Benar benar tidak ada yg istimewa dalam benak ku. “Paling lagi campursari opo lek gak koplo an,marai ngantuk.” Kiranya begitulah yg terbersit dalam pikiran jahiliyah ku. Mulailah sang pengamen itu melantunkan bait bait lagu dalam bungkusan nada melodi yg lumayan memanjakan gendang tidak buruk lah. Aku yg terlalu khidmah pada gawai yg ku pegang erat tiba tiba terdiam ketika lirik yg dilafadkan oleh pengamen itu mengusik fokusku. Sebuah kidung yang sangat unik. Memaparkan kehidupan di negara ku ini,di babat habis lah dalam untaian bait bait yang sialnya sangat mendetail dan mengupas habis semua aspek kehidupan di negeri ini. Hingga aku tergelak ketika dengan indahnya terkeluar dari mulut sang bapak bait “monyet Bekasi yang sudah bolak-balik haji,tapi tetap korupsi” sungguh sebuah ironi yang sangat mustahil untuk kita nafikan. Hingga berakhirnya kidung sang bapak tak banyak memang orang yg memberikan atensi pada nya,tapi suara cempreng itu tetap berkumandang dengan lantangnya hingga semua kritikan yg dikemas dalam nada tersebut berakhir. Kejadian ini benar benar mengetuk hatiku dan membuat kinerja otakku meningkat , bagaimana dengan ku? Bahkan untuk menuliskan sebuah pengalaman pribadi saja aku merasa masih sangat kurang cakrawala,lalu bagaimanakah ketika aku yang faktanya hidup dengan status “mahasiswa” harus memberikan pemaparan tentang masa depan bangsa ini,tidak salah apabila aku menganggap pengamen itu sebagai salah satu guru dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar